DOKUMENTASI

DOKUMENTASI

DOKUMENTASI

DOKUMENTASI

DOKUMENTASI

DOKUMENTASI

DOKUMENTASI

DOKUMENTASI

DOKUMENTASI

DOKUMENTASI

Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Monday, September 14, 2015

FUNDAMENTALISME AGAMA ANTARA FENOMENA DAKWAH DAN KEKERASAN ATAS NAMA AGAMA


OLEH : FAHRURROZI DAHLAN
ABSTRAK

Dewasa ini penggunaan istilah fundametalisme memang telah mengalami kesimpangsiuran makna, bahkan cendrung menjadi istilah yang bias dan pejorative (bersifat merendahkan),bahkan seringkali digunakan dengan konotasi negative. Pada gilirannya fundamentalisme sering merujuk kepada kehidupan masa lalu, bahkan lebih jauh lagi fundamentalisme sering disamakan sebagai ekstrimisme, fanatisme politik, aktivisme politik, terorisme dan Anti Amerika.
Berdasarkan pandangan di atas, dapat dirumuskan pertanyaan utama dalam kajian ini adalah, bagaimana fundamentalis dianggap sebagai fenomena agama dan kekerasan atas nama agama? Untuk mempermudah dalam menganalisa, penulis memetakan pertanyaan pokok tersebut dalam sub-sub pertanyaan sebagai berikut; bagaimana akar persoalan munculnya fundamentalisme? Bagaimana  karakteristik Islam fundamentalis? Bagaimana peran para fundamentalis dalam dakwah islamiyah?
Islam fundamentalisme merupakan corak keberagamaan di Indonesia yang memiliki akar pemahaman ortodok sehingga dalam memahami teks agama dominan rigid, statis dan eksklusif.

EKSPRESI KEBERAGAMAAN MASYARAKAT ISLAM INDONESIA ( MOZAIK KEBHINEKAAN INDONESIA )


Oleh: Fahrurrozi



Abstrak

Ekspresi religiusitas umat Islam Indonesia merupakan respons ummat Islam terhadap perkembangan modernitas zaman, sehingga payung besar dari kebangkitan Islam tersebut terbagi dalam tiga kelompok, yakni revivalisme Islam, reformisme Islam dan fundamentalisme Islam. Islam revivalis melahirkan beberapa kelompok gerakan, di antaranya: Islam puritan, Islam tradisionalis, Islam ortodoks, Neo-revivalis, Islam konservatif. Sedangkan Islam reformis melahirkan beberapa gerakan, seperti: Islam modernis, Islam liberal, Islam subtansial, dan Neo-modernis. Sementara Islam fundamentalis melahirkan Islam radikal, Islam militan bahkan terorisme. Secara metodologis pemahaman terhadap Islam, gerakan pemikiran Islam abad modern dan kontemporer, sebagaimana yang dikatakan oleh Lauay Safi terdiri dari dua, yakni, kelompok yang menggunakan dan menerapkan sistem Islam klasik dan kelompok yang memakai paradigma metodologi epistemologi modern Barat secara total atau dengan proses integrasi antara keilmuan modern Barat dengan khazanah keilmuan Islam. Berdasarkan hal tersebut, layak disebut bahwa kebhinekaan Umat Islam Indonesia sebagai khazanah bangsa yang harus dirajut sehingga tercipta keharmonisan antarumat beragama sebagai ciri karakter bangsa Indonesia yang sesungguhnya.

DAKWAH ISLAM DAN PRINSIP DEMOKRATISASI KEBEBASAN



Oleh : Fahrurrozi


ABSTRAKSI

Harus diakui secara objektif, bahwa sejarah agama adalah sejarah siklik yang penuh dengan hegemoni, intoleransi, pemaksaan, kekerasan atas nama Tuhan. Atas nama kebenaran, atas nama keselamatan, atas nama nilai ideal, bahkan atas nama suci Tuhan, agama menjadi alat legitimasi yang paling nyata dalam tragedi pemberangusan hak-hak dan kebebasan sipil. Hak-hak sipil dan kebebasan individu yang secara rasional kita terima sebagai sebuah postulat universal kemanusiaan, harus diingkari dan dinodai demi sebuah arogansi dan egoisme komunal penganut agama tertentu. Terlalu banyak catatan hitam dalam lembaran sejarah manusia, di mana kebebasan berpikir dan berekspresi tereksklusi hanya karena bertentangan dengan doktrin agama tertentu yang sebenarnya hanya dimaknai subyektif oleh para penganut agama tertentu. Persoalan yang muncul kemudian adalah, bagaimana posisi kebebasan itu dalam bingkai kebebebasan orang lain, apakah kebebasan itu sebenarnya justru tidak bebas karena dibatasi oleh hak dan kewajiban orang lain untuk dihormati dan dihargai? 

Tulisan ini, mencoba melihat aspek kebebasan itu dalam perspektif Islam dan demokrasi, guna memposisikan Islam sebagai agama yang menghargai kebebasan bukan mengkebiri kebebasan orang lain karena doktrin ajarannya.


DAKWAH TRANSFORMATIF TUAN GURU DI LOMBOK ( STUDI KOMUNIKASI RELATIONAL)


ABSTRAK
Dakwah transformatif adalah suatu model pendekatan dan metode dakwah yang tidak hanya mengandalkan dakwah verbal (konvensional) untuk memberikan materi-materi keagamaan kepada masyarakat, yang memposisikan da’i sebagai penyebar pesan-pesan keagamaan, tetapi juga menginternalisasikan pesan-pesan keagamaan ke dalam kehidupan riil masyarakat dengan cara melakukan komunikasi relasional dan pendampingan masyarakat secara langsung. Dengan demikian dakwah tidak hanya untuk memperkuat aspek religiusitas masyarakat, melainkan memperkokoh basis sosial untuk mewujudkan transformasi sosial dan menghilangkan kesenjangan sosial yang terjadi selama ini.
Starting point dari persoalan di atas, permasalahan utama dalam kajian ini  adalah bagaimana dakwah transformatif  Tuan Guru  perspektif  komunikasi relasional? Dari sini dapat dipertegas dengan memunculkan sub-sub pertanyaan sebagai berikut: bagaimana kriteria dakwah transformatif tuan guru di Lombok? bagaimana signifikansi komunikasi relasional tuan guru dalam melakukan dakwah transformatif di Lombok?