Abstrak
Pergeseran paradigma dan penyebutan masyarakat tentang tuan guru
di Lombok sering mengalami kerancuan dan
tumpang tindih karena beberapa hal; status ketuanguruannya, keilmuan,
sikap dan prilaku, serta antara orang yang aktivitasnya
murni mengajar masyarakat di pesantren, guru madrasah, da’i, dan orang yang
aktivitasnya mengajarkan kitab-kitab keagamaan secara umum, bahkan karena
faktor kepentingan politik, tuan guru di setiap pelosok bak jamur di musim
hujan. Berangkat dari persoalan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan
epistimologi tuan guru dalam tataran normatif sekaligus memotret realitas
sosial tentang fenomena penyebutan gelar tuan guru. Upaya ke arah tersebut,
penelitian ini menggunakan pendekatan
sosiologis-fenomenalogis dengan analisa deskriptif-induktif. Dengan demikian temuan penelitian ini membuktikan bahwa tuan guru sebagai fungsionaris agama semestinya memiliki; integritas keilmuan mendalam, kesalehan
individual dan sosial, ahli membaca kitab, memiliki lembaga pendidikan, pernah berhaji, adanya penerimaan sosial, memiliki komitmen tinggi terhadap masyarakat, memiliki kharisma khas yang
membedakan dirinya dengan orang lain, serta berakhlak mulia.








